Ianpanrita = Irhamullah

Irhamullah

Di Atas Bumi Di Bawah Langit
Irhamullah

Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyah

March 28, 2016, by ianpanrita, category Islam

Manhaj salaf adalah manhaj yang mulia, manhaj yang agung dan merupakan jalan hidupnya orang-orang shaleh yang terpuji. Mengikutinya adalah kebaikan dan jalan keselamatan, sedang menyelisihinya merupakan titik awal dari kebinasaan dan kehancuran.

Salafy atau salafiyyun merupakan gelar bagi orang-orang yang senantiasa berusaha untuk mengikuti jalan hidup mereka, berusaha untuk tetap teguh dan konsisten di atas ujian berupa celaan orang-orang yang memusuhi mereka, dan mereka selalu berusaha untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sayangnya, diantara para pengikut manhaj mulia ini kini saling menyerang sesama mereka, saling tuding dan menuduh serta menjatuhkan, hingga mencerai beraikan persatuan dan kesatuan kaum muslimin.

Wahdah Islamiyyah, sebagai salah satu dari beberapa ormas yang melandaskan perjuangan mereka pada manhaj salaf, juga ikut terkena panah-panah fitnah dari mereka-mereka yang sangat tasyaddud (ekstrim). Kerja orang-orang yang tasyaddud itu mengelompokkan manusia dan mengeluarkan orang-orang sekehendak hawa nafsunya dari barisan ahlusunnah waljama’ah.

Melalui tulisan ini, kami hanya berharap dapat meredam perselisihan itu dan meluruskan pemahaman yang keliru, sehingga semuanya kembali dapat bersatu dan tolong-menolong untuk meninggikan kalimat Allah azza wajalla

Diawal-awal tulisan ini sengaja kami mulai dengan perkataan Syaikh Muhammad al-Utsiaminrahimahullah untuk selalu mengingatkan diri kami, apa yang sebenarnya kami harapkan saat menulis risalah kecil ini. Beliau berkata:

لا يحل لنا أن نتفرق في دين الله وعبادة الله، بحيث يضلل بعضنا بعضا ويبدع بعضنا بعضا، بل إذا رأينا من أخينا مخالفة لنا في العقيدة أو في العمل القولي أو الفعلي فإن الواجب أن ننصحه إن كان دوننا، ونناقشه إن كان مثلنا، لا أن نوليه الأدبار ونذهب نتكلم فيه عند الناس ويبقى هو في ضلاله ويحصل التفرقة بين الأمة

“Tidak halal bagi kita berpecah-belah dalam agama dan peribadatan kepada Allah, dimana kita saling memvonis sesat dan membid’ahkan antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi hendaknya ketika melihat saudara kita yang menyelisihi aqidah atau amalan yang bersifatqauliy (perkataan) atau fi’liy (perbuatan), wajib menasehatinya jika kapasitas ilmunya di bawah kita dan berdialog dengannya jika kapasitas ilmunya sama dengan kita. Bukan justru membelakangi dan meninggalkannya kemudian berbicara tentangnya di hadapan manusia, sedangkan ia tinggal dengan kesesatannya, yang mengakibatkan terjadinya perpecahan di tengah-tengah ummat.” (Fathu Dzil Jalali Wal Ikram Syarah Bulughul Maram karya Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsiaimin, jilid 15 halaman 286. Kitab ini masih dalam bentuk pdf, tersimpan di maktabah Univeristas Islam Madinah. Penggalan kalimat ini kami dapatkan dari Ustadz Ayyub Soebandi, Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah.)

Dari sini kami berharap agar tidak menambah munculnya perselisihan baru diantara kaum muslimin, khususnya ahlusunnah. Melainkan dapat meredup api perselisihan yang kian membara. Dengan itu, harapan kami ahlusunnah semakin kuat dan dapat mengalahkan segala bentuk konspirasi orang-orang yang benci pada agama yang mulia ini.

Tulisan ini, hanyalah bentuk rasa takut kami akan perkataan syaikh Bakar Abu Zaidrahimahullah, akan sorotannya terhadap para da’i yang sangat gemar menenebar fitnah dan memecah belah umat. Kami berharap tidak masuk dalam kategori itu dan berupaya menarik tangan saudara kami agar tidak terjatuh dalam jurang kesalahan itu, sebagaimana perkatan beliau:

و في عصرنا الحاضر يأخذ الدور في هذه الفتنة دورته في مسلاخ من المنتسبين إلى السنة متلفّعين بمرط ينسبنه إلى السلفية – ظلما لها – فنصبوا أنفسهم لرمي الدعاة بالتهم الفاجرة, المبنية على الحجج الواهية, و اشتغلوا بضلالة التصنيف.

“Di zaman sekarang, yang mengambil peran besar dalam penyebaran fitnah ini (fitnah tashnif) adalah sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada sunnah dan menutupi dirinya dengan jubah salafiyyah –sebagai bentuk kezhaliman terhadap manhaj tersebut– lalu mereka mencela para du’at dengan tuduhan-tuduhan keji, berdasarkan hujjah yang lemah, dan menyibukkan diri dengan kesesatan tashnif (menggolong-golongkan manusia).” (Ar-Rudud: 401-402)

Tulisan ini juga merupakan alasan kami mengapa kami terus berjuang bersama kafilah dakwah yang bernama ormas Wahdah Islamiyyah yang melandaskan perjuangannnya pada manhaj salafu ash-shaleh yang bercita-cita untuk menyatukan ummat. Serta kami khususkan menanggapi tulisan saudara kami al-akh Sofyan Chalid Rurai yang berjudul “Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyyah.

Pada awalnya kami sangat tidak berkeinginan menanggapi pernyataan-pernyataan beliau dalam artikel tersebut, dan lebih ingin menyibukkan diri dengan ilmu dan dakwah, karena seperti itulah asatidz di Wahdah membina kami. Dan kami sangat yakin bahwa seperti itu pula yang dirasakan oleh al-akh Sofyan Chalid ketika belajar pada mereka. Hanya saja, niat baik mereka untuk menyibukkan dirinya pada ilmu, memahami manhaj mulia dan menjauhkannya dari kisruh perselisihan dikalangan pengikut manhaj salaf, justru dianggap buruk olehnya. Kemudian beliau ikut masuk dalam barisan orang-orang ekstrim itu lalu melempar fitnah ditengah-tengah umat. Akhirnya fitnah itu kemudian dinukil dari mulut ke mulut oleh orang-orang yang tidak begitu dalam ilmunya, bahkan mungkin baru mengenal dakwah salafiyyah. Benih-benih perpecahan pun kian bermunculan, dan titik-titik api perselisihan tidak memperlihatkan kepadamannya. Maka biarlah kami selaku murid mereka yang menanggapi tulisan tersebut, agar tidak mengotori tangan-tangan mereka selaku guru-guru kami dengan noda-noda perselisihan, sehingga dapat lebih fokus melakukan pembinaan terhadap ummat.

Tulisan saudara Sofyan Chalid rupanya dimuat dalam beberapa situs dan website, sehingga jika kita memasukkan kata kunci “Wahdah Islamiyyah” dalam mesin pencari google dan semisalnya, akan banyak bermunculan tulisan itu. Ini diantara perkara yang menjadi sebab utama merebaknya orang-orang yang dangkal ilmunya bahkan jahil, tapi sangat berani memberi fatwa dan menyesatkan orang lain. Sayangnya tulisan itu hanyalah tulisan yang cacat hujjah bahkan berdalilkan dengan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Sebagaimana perkataan Ali radhiyallahu ‘anhuQaulul haq uriida biha al-bathil (perkataan yang benar namun diinginkan kebatilan dengannya).” Inilah perkara yang menciderai persatuan kaum muslimin. Tulisan yang seolah-olah ilmiyah, namun ternyata mencaplok perkataan ulama lalu menempatkannya bukan pada tempatnya. Sungguh ini merupakan kezhaliman terhadap para ulama dan kaum muslimin. Maka berhentilah menukil berita seperti itu! ingatlah firman Allah:

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٤) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (١٥)وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (١٦)

“Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal hal itu pada sisi Allah adalah perkara besar.” (QS. An-Nur: 14-15)

Maka dengan mengharap ridha Allah, kami merasa terpanggil untuk menanggapi tulisan tersebut, sekaligus menjadi alasan kami untuk terus bersama dalam barisan dakwah yang diperjuangkan oleh ormas Wahdah Islamiyyah, walau begitu banyak syubhat yang dihembuskan oleh manusia-manusia yang telah disebutkan oleh Syaikh Bakar Abu Zaidrahimahullah.

Alasan pertama beliau:

Alasan paling mendasar yang membuat beliau keluar dari Wahdah Islamiyyah adalah penyimpangan ormas ini (menurutnya) berupa kurangnya kecemburuan pada manhaj yang haq, sehingga batinnya tidak bisa lagi menerima hal itu. Dimana mereka (Wahdah Islamiyyah) selalu bermudah-mudahan dalam bermajelis bersama orang-orang yang menyimpang dari manhaj salaf, dalam hal ini adalah para ahli bid’ah (yang dimaksud adalah Ikhwan al-Muslimin, sebab seperti itu beliau tulis dalam artikelnya). Kemudian untuk menguatkan perkataannya, beliau mengangkat satu ayat dalam surah al-An’am dan perkataan imam asy-Syaukani rahimahullah.

Allah berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (٦٨)

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat akan larangan itu.” (QS. Al-An’am: 68)

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terkandung nasehat yang agung bagi mereka yang mentolerir duduk bermajelis dengan al-mubtadi’ah, orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mempermainkan Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Jadi, jika seorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah”.

Kemudian Al-Imam Asy-Syaukani menjelaskan diantara bahaya duduk bersama orang-orang yang menyimpang, “Terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran”.(Fathul Qodir: 426).

Tanggapan:

Nampaknya beliau harus lebih teliti menyebutkan contoh-contoh kasus bahwa asatidz Wahdah Islamiyyah sangat bermudah-mudahan dalam bermajelis dengan ahli bid’ah, sebab sepengetahuan kami, mereka tidak seperti tuduhan al-akh Sofyan, bahkan asatidz di wahdah islamiyyah melarang kami untuk duduk-duduk dengan ahlul bida’. Kami berharap agar beliau tidak serampangan dalam memvonis seseorang sebagai ahlu bid’ah yang keluar dari manhaj mulia ini, yang tidak dapat diambil perkataannya padahal sang tertuduh tidak dalam kondisi seperti itu.

Untuk masalah ini kami akan tanggapi dalam beberapa point:

Pertama: Hendakya kita mengetahui bahwa para ulama tidak segegabah beliau dan tidak serampangan menuduh seseorang/kelompok sebagai ahli bid’ah, lalu mengeluarkan mereka dari barisan Ahlusunnah Waljama’ah. Para ulama juga telah menjelaskan tentang siapa orang-orang yang mereka maksud sebagai ahlul bida’ dan ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) ketika mencela mereka, serta mengeluarkannya dari barisan ahlussunnah. Para ulama juga telah memberikan kaidah-kaidah yang dapat diterapkan dalam menghukumi seseorang, apakah ia keluar dari manhaj ahlusunnah atau tidak.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah berkata:

وَالْبِدْعَةُ الَّتِي يُعَدُّ بِهَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ مُخَالَفَتُهَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ: كَبِدْعَةِ الْخَوَارِجِ، وَالرَّوَافِضِ، وَالْقَدَرِيَّةِ، وَالْمُرْجِئَةِ، فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ، وَيُوسُفَ بْنَ أَسْبَاطٍ، وَغَيْرَهُمَا قَالُوا: أُصُولُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً هِيَ أَرْبَعٌ. الْخَوَارِجُ، وَالرَّوَافِضُ، وَالْقَدَرِيَّةُ، وَالْمُرْجِئَةُ

“Perkara bid’ah yang menyebabkan seseorang termasuk dalam kategori pengikut hawa nafsu yang masyhur dikalangan ahli ilmu yang berpegang teguh dengan sunnah adalah bid’ah yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah sebagaimana bid’ahnya kaum khawarij, rafidhah,qadariyyah dan murjiah. Sesungguhnya Abdullah Ibnu al-Mubarak dan Yusuf Ibnu Ashbath dan selain mereka berkata, “Ushul dari 72 golongan ada empat yaitu khawarij, rafidhah, qadariyyah dan murjiah.” (al-Fatwa al-Kubra: 4/194)

Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata:

وذلك أن هذه الفرق إنما تصير فرقا بخلافها للفرقة الناجية في معنى كل في الدين وقاعدة من قواعد الشريعة لا في جزئي من الجئزئيات إذ الجزئي والفرع الشاذ لا ينشأ عنه مخالفة يقع بسببه التفرق شيعا وإنما ينشا التفرق عند وقوع المخالفة في الامور الكلية

“Dan kelompok-kelompok ini (kelompok-kelompok yang melakukan bid’ah dalam masalah ibadah) sesungguhnya mereka akan menjadi kelompok yang menyelishi al-Firqatu an-Najiyah (ahlusunnah) jika meneyelisihi pada perkara kulli (semua dalam masalah pokok-pokok/ushul agama-pent) dan kaidah dari kaidah-kaidah syariah, bukan pada perakara juz’iy (sebagian/cabang) dari sebagian-sebagian permasalahan agama. Karena perkara juz’iy danfuru’ (cabang agama) tidak menyebabkan perpecahan kelompok. Sesungguhnya yang menyebabkan perpecahan kelompok hanyalah ketika terjadi perselisihan dalam permasalahankulliyyah pada pokok-pokok agama.” (al-I’tisham: 2/200)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimhullah berkata:

“Dan perihal yang perlu diketahui pula bahwa kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka untuk selalu ittiba’ dalam ushul ad-din, terdapat beberapa derajat dalam membicarakan mereka. Diantara mereka ada yang menyelisihi sunnah dalam permasalahan ushul yang sangat besar dan diantara mereka pula ada yang menyelishi sunnah dalam permasalahan yang ringan. Maka siapa saja yang membantah kelompok-kelompok selain mereka yang jauh dari sunnah, maka hal itu adalah perbuatan terpuji atas bantahannya terhadap kebatilan dan perkataannya terhadap kebenaran. Akan tetapi terkadang mereka berlebihan sehingga tidak berbuat adil dalam membantahnya. Dimana mereka mengingkari sebagian kebenaran dan mengatakan sebagian yang lain sebagai kebatilan. Sehingga terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan darinya, dan membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih rendah darinya. Inilah keadaan kebanyakan pemilik perkataan yang menisbatkan dirinya pada ahlu sunnah waljama’ah. Dan orang-orang seperti mereka, jika mereka tidak menjadikan perkara bid’ah yang mereka terjatuh di dalamnya sebagai standar perkataan (kebenaran), sehingga mereka berpisah dengannya dari jama’ah kaum muslimin, seperti setia dan memusuhi karenannya maka itu merupakan kesalahan. Dan Allah mengampuni kesalahan kaum mu’minin dalam perkara seperti ini. Hal seperti ini pun banyak terjadi pada generasi umat dan imam-imam sebelumnya. Mereka memiliki perkataan dari ijtihad mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah. Beda halnya dengan orang-orang yang setia pada kelompoknya karena sesuai dengannya dan memusuhi karena tidak sesuai dengan kelompoknya dan ia memisahkan dirinya dari jama’ah kaum muslimin serta mengkafirkan dan memfasikkan orang-orang yang berbeda dengannya dalam masalah hal-hal ijtihadiyyah sehingga ia menghalalkan untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai dengannya maka mereka ini adalah ahlu at-tafarruq wa al-ikhtilaf (kelompok pemecah belah agama).” (Majmu’ Fatawa, Bab Ma Hiya al-Firqatu an-Najiyyah, 3/349)

Kedua: Ayat yang dijadikan sebagai dalil oleh al-akh Sofyan adalah ayat yang haq, begitupula perkataan al-Imam asy-Syaukani rahimahullah, dan para ulama juga melarang duduk-duduk bersama ahli bid’ah. Akan tetapi, berhujjah dengan perkataan imam asy-Syaukanirahimahullah lalu menuduh sebagian orang-orang yang berada dalam jama’ah ikhwanul muslimin sebagai ahli bid’ah adalah hujjah yang salah alamat dan tidak pada tempatnya. Bahkan hal itu merupakan kezhaliman terhadap mereka. Sebab imam asy-Syaukanirahimahullah dalam perkataannya, telah memberikan isyarat tentang ushul ahli bid’ah yang beliau maksudkan, dan hal itu sesuai dengan point pertama yang kami sebutkan di atas. Untuk lebih jelasnya perhatikan perkataan beliau dalam tafsirnya lengkap dengan bahasa arabnya kami nukilkan. Beliau rahimahhullah berkata:

وفي هذه الآية موعظة عظيمة لمن يتسمح بمجالسة المبتدعة ، الذين يحرّفون كلام الله ، ويتلاعبون بكتابه وسنة رسوله ، ويردّون ذلك إلى أهوائهم المضلة وبدعهم الفاسدة

“Dalam ayat ini terkandung nasehat yang agung bagi mereka yang mentolerir duduk bermajelis dengan mubtadi’ah, yaitu orang-orang yang suka mentahrif  (mengubah-ubah perkataan Allah azza wajalla), mempermainkan Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak.

Ushul ahli bid’ah yang dimaksudkan oleh Imam asy-Syaukani rahimahullah adalah gemarmentahrif (mengubah-ubah perkataan Allah), tala’ub (mempermainkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya) dan mengembalikan pemahaman al-Qur’an dan sunnah sesuai hawa nafsunya.

Jika melihat ushul yang disebutkan oleh imam asy-Syaukani ini, maka hal tersebut tidak bisa diterapkan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin dikalangan jamaa’ah ikhwanul muslimin lalu menamakan mereka sebagai ahli bid’ah dan ahli ahwa yang termasuk dalam 72 golongan yang akan binasa. Sebab sifat-sifat itu secara umum, tidak ada pada diri mereka.

Jika al-akh Sofyan mengatakan bahwa kelompok ikhwanul muslimin gemar mentahrif ayat dan mempermainkan ayat, maka hal ini perlu pembuktian darinya akan tuduhannya itu. Ingat kaidah ketika terjadi khusumah (perseteruan) antara dua kubu kaum muslimin:

البينة على المدعي واليمين على من أنكر

“Bukti harus diperlihatkan bagi seorang penuduh dan sumpah bagi yang mengingkarinya.”

Maka jika beliau tidak dapat memberikan bukti, berarti ini adalah bentuk kedustaan!

Yang kami ketahui, justru perkataan beliau sangat berbanding terbalik dengan pernyataan Lajnah Daimah (Lembaga Komisi Riset dan Fatwa Saudi Arabia) yang diketuai oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah. Ketika Lajnah Daimah ditanya tentang kekompok-kelompok yang menerapkan al-Qur’an dan sunnah, Lajnah Daimah justru memasukkan ikhwanul muslimin dalam barisan ahlusunnah dan kelompok yang sangat semangat dalam menerapkan kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Dalam fatwa Lajnah Daimah disebutkan:  “Kelompok-kelompok islam yang paling dekat dengan kebenaran dan semangat dalam mempraktekannya adalah ahlu sunnah. Mereka adalah ahlul hadits, jama’ah ansharu as-sunnah dan jama’ah ikhwan al-muslimin. Intinya, setiap kelompok dari mereka dan selainnya terdapat kesalahan dan kebenaran pada mereka. Maka bekerjasamalah dengan mereka pada kebenaran dan jauhilah kesalahannya. Dan saling nasehat menasehatilah dalam kebaikan dan takwa. Semoga mendapat taufik dari Allah.” (Fatwa Lajnah Daimah: 6250)

Ketiga: Kami tidak sedang membela beberapa kesalahan sebagian orang-orang yang berada dalam jama’ah ikhwanul muslimin dalam masalah manhaj, sebab kami tidak menafikan nasihat para ulama tentang kesalahan-kesalahan mereka. Hanya saja, dalam hal menghukum mereka, tidak boleh menghukumnya secara muthlak dan menyamaratakan bahwa mereka semua adalah orang-orang yang sesat dan menyimpang. Sebab dalam kelompok mereka ada bermacam-macam pemahaman. Maka menghukumnya harus berdasarkan afrad (person-personnya). Oleh karena itu, para ulama tidak memasukkan mereka dalam kelompok sesat atau bagian dari 73 golongan yang akan binasa, bahkan para ulama memasukkan mereka dalam barisan ahlusunnah waljama’ah.

Pada kesempatan ini kami hanya ingin bersikap inshaf dan membela hak-hak mereka dari sekelompok manusia-manusia yang ekstrim, yang telah menganggaap mereka sebagai kelompok sesat secara muthlak, menyimpang dan telah membuat firqah serta bukan bagian dari Ahlusunnah Waljama’ah. Kami akan bersikap sebagaimana para ulama bersikap.

Telah benarlah perkataan Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah, dimana beliau berkata:

و في عصرنا الحاضر يأخذ الدور في هذه الفتنة دورته في مسلاخ من المنتسبين إلى السنة متلفّعين بمرط ينسبنه إلى السلفية – ظلما لها – فنصبوا أنفسهم لرمي الدعاة بالتهم الفاجرة, المبنية على الحجج الواهية, و اشتغلوا بضلالة التصنيف.

“Di zaman sekarang, yang mengambil peran besar dalam penyebaran fitnah ini (fitnah tashnif) adalah sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada sunnah dan menutupi dirinya dengan jubah salafiyah –sebagai bentuk kezhaliman terhadap manhaj tersebut– lalu mereka mencela para du’at dengan tuduhan-tuduhan keji, berdasarkan hujjah yang lemah, dan menyibukkan diri dengan kesesatan tashnif (menggolong-golongkan manusia).” (Ar-Rudud: 401-402)

Perlu diketahui bahwa perkara menyesatkan seseorang atau suatu kelompok adalah perkara yang lebih berbahaya daripada perkara hajr (mengisolir kaum muslimin karena dosa). Jika dalam perkara hajr saja seseorang harus memastikan beberapa sebab yang melazimkan dirinya untuk mengahajr seorang mukmin, maka dalam memvonis sesat, seseorang harus lebih berhati-hati lagi, karena ini sangat berhubungan erat dengan agama seseorang.

Perkara yang harus dipastikan dalam menghajr seseorang itu adalah:

Pertama: Memastikan dan mengkonfirmasi adanya bid’ah. Tidak cukup dengan mendengar dari orang lain atau menukil dari orang orang lain, melainkan harus memastikan langsung pada pelakunya dengan mendengar perkataannya, melihat perbuatan atau tulisannya.

Kedua:  Hendaknya bid’ah itu adalah perkara yang disepakati para oleh ulama, maka tidak boleh menghajr pada perkara yang khilafiyyah.

Ketiga: Sampainya hujjah pada pelaku bid’ah, ia memahaminya, hilangnya penghalang berupa kebodohan, dan teragkatnya syubhat padanya dan terbangun dari kelalaian. (Da’watu Ahli al-Bida’: 89. Kitab ini telah di takdim kepada syaikh al-Fauzan hafizhahullah)

Maka apabila seseorang memvonis kaum mu’minin sebagai orang atau kelompok sesat dan menyimpang pada perkara khilafiyyah, lebih-lebih pada tuduhan yang tidak berdasar, maka perbuatannaya adalah perbuatan yang sangat ghuluw, ekstrim dan jauh dari tuntunan para ulama rabbani yang bermanhaj salafiy. Bahkan perbuatan itu lebih kejam dari khawarij. Karena mereka (khawarij) mengelurakan seorang muslim dari islam karena dosa besar, sedangkan mereka (orang-orang yang ekstrim itu) justru menyesatkan orang lain pada perkara khilafiyyah bahkan pada tuduhan yang dusta.

Al-Khallal rahimahullah dalam kitabnya as-Sunnah meriwayatkan perkataan Abdus Ibnu Abdil Wahid beliau berkata:

إِخْرَاجُ النَّاسِ مِنَ السُّنَّةِ شَدِيدٌ

“Mengeluarkan seseorang dari daerah ahlusunnah adalah sesuatu yang syadid (berbahaya-pent).” (as-Sunnah: 2/373)

Syaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman al-Jibrin, ketika ditanyakan kepada beliau tentang ikhwanul muslimin, dan setelah beliau menyebutkan kebaikan dan beberapa kesalahan jama’ah ikhwanul muslimin, beliau berkata:

وأما تعدد تلك الجماعات فلا نرى أن الجميع من الفرق الضالة لمجرد اختلاف الأسماء إذا كان الهدف واحدًا، فهناك جماعة التبليغ في المملكة وما حولها أغلبهم من خريجي الجامعات الإسلامية وعلى عقيدة أهل السنة لكنهم رأوا الدعوة إلى الله بالأفعال والرحلات أكثر تأثيرًا وهناك السلفيون من أهل السنة والجماعة رأوا تفضيل التعلُّم والتوسع في المعلومات العقدية، وهناك الإخوان المسلمون رأوا الاشتغال بالدعوة والتصريح بالمنكرات، وهناك من رأى الهجر والبعد عن العصاة ولو كانوا رؤساء، وهناك من أجاز التدخل مع الولاة لتخفيف شرهم، والأصل أن الجميع على معتقد أهل السنة فلا يعدون من الفرق الضالة فإن وجد من بينهم من هو على عقيدة مخالفة كالتعطيل والتشبيه وإباحة الشركيات والقول بالإرجاء أو قول الخوارج، أو إنكار قدرة الله فإنه يحكم على من اعتقد ذلك بأنه من الفرق الضالة ويحذر من الانخداع بدعوته. والله أعلم.

Adapun kebanyakan jama’ah-jama’ah islam yang ada, kami tidak melihat semua dari mereka termasuk dalam kelompok yang sesat hanya karena perbedaan nama, padahal tujuan mereka satu. Ada diantaranya yang bernama Jama’ah Tabligh yang berada di Kerajaan Arab Saudi dan sekitarnya, kebanyakannya merupakan alumni Universitas-Univeristas Islam dan mereka berada di atas akidah ahlusunnah. Akan tetapi mereka berpandangan bahwa dakwah di jalan Allah dengan perbuatan dan melalui berbagai rihlah (perjalanan dakwah) lebih memberi banyak pengaruh. Ada juga kelompok Salafiy termasuk ahlusunnah waljama’ah, mereka berpandangan bahwa menuntut ilmu dan mempelajari lebih mendalam tentang akidah itu lebih utama. Adapula yang bernama Ikhanul Muslimin, mereka berpandangan untuk menyibukkan diri dengan dakwah dan tashrih terhadap kemungkaran, adapula yang berpandangan untuk menghajr dan menjauhi pelaku maksiat walau mereka adalah para pemimpin, dan adapula yang membolehkan untuk masuk dalam wilayah kepemimpinan untuk mengurangi keburukan mereka. Secara asal, semuanya berada pada akidah Ahlusunnah Waljama’ah sehingga tidak boleh menyebut mereka termasuk dalam kelompok sesat. Kecuali jika mendapatkan pada mereka perkara yang menyelisihi akidah seperti akidah ta’thil dan tasybih serta membolehkan perkara-perkara kesyirikan, berpemahaman murjiah, khawarij atau mengingkari takdir. Jika didapatkan seperti itu, maka hukumnya sesuai akidahnya itu dan dia termasuk kelompok sesat dan hendaknya mentahdzir atas bid’ahnya itu.” (Fatwa Syaikh Jibrin: 11622 atau lihat dalam situs resmi beliau: http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-11622-.html)

Syaikh Ibnu Baz rahimhuallah berkata:

“Intinya, yang menjadi dhabith (prinsip dasar) adalah selama mereka (kelompok-kelompok islam) berada di atas kebenaran. Maka apabila seorang muslim atau jama’ah mengajak pada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengajak pada tauhidullah serta mengikuti syariatnya maka mereka adalah al-Firqatu an-Najiyah. Adapun siapa saja yang mendakwahkan pada selain kitab Allah atau kepada selain Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka perkara seperti ini bukanlah ahlusunnah, melainkan kelompok sesat yang akan binasa. Sesungguhnya kelompok al-Firqatun Najiyah adalah sekelompok orang-orang yang mengajak pada kitab Allah dan sunnah. Sekalipun diantara mereka ada jama’ah dari sini dan dari situ. Intinya jika mereka berada pada tujuan dan akidah yang satu, maka penamaan kelompok mereka yang berbeda-beda seperti jama’ah ansharu sunnah, jama’ah ikhwanul muslimin dan kelompok ini dan itu, tidak akan memberikan mudharat (mengeluarkan mereka dari ahlusunnah-pent) yang penting akidah mereka dan amalan mereka tetap istiqamah di atas kebenaran dan mentauhidkan Allah, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perkataan dan perbuatan, amalan dan akidah. Maka perbendaan nama tidak akan memberikan mudharat. Namun hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan jujur dalam pengakuannya…….. dan jika ada satu jama’ah yang terjatuh dalam kesalahan pada satu perkara dari perkara-perakara agama, maka hendaknya yang lain memperingatkannya dan tidak meninggalkan mereka dalam kesalahannya. Justru kita harus saling tolong menolong dengan mereka pada perkara kebaikan dan takwa. Maka jika diantara mereka terjatuh pada perkara akidah atau pada perkara yang wajib atau haram, maka hendaknya diingatkan dengan dalil-dalil syar’i  dengan kelemah lembutan dan penuh hikmah serta metode yang baik, hingga mereka kembali pada kebenaran dan menerimanya, dan agar mereka tidak lari darinya. Itulah perkara yang wajib. Maka hendaknya kaum muslimin saling bekerja sama dalam kebaikan dan takwa serta saling menasehati sesama mereka dan tidak saling menghinakan.” (Majalah al-Ishlah al-Adad 241 atau lihat linknya disini: http://www.saaid.net/leqa/16.htm)

Ketika syaikh al-Albani rahimahullah ditanya oleh Syaikh Abu al-Hasan as-Sulaimanihafizhahullah tentang ikhwanul muslimin, apakah mereka kelompok yang sesat dan keluar dari wilayah al-Firqatu an-Najiyah atau tidak, maka syaikh al-Bani rahimahullah mengatakan:

“Saya tidak beri’tiqad bahwa mereka merupakan diantara kelompok-kelompok yang sesat, karena saya biasa ditanya tentang pertanyaan yang sharih/secara jelas (maksudnya syaikh al-Albani cuma menjawab pertanyaan-pent). Saya tidak berkeyakinan seperti itu pada jilsah tersebut, ketika berbicara tentang mereka. Jika ada perkataan saya yang salah, maka saya rujuk (kembali pada kebenaran) dari perkataan itu. Kebanyakan yang ditanyakan kepada saya hari ini tentang beberapa kelompok yang ada, dan lebih khsusus pada kelompok ikhwanul muslimin, apakah mereka termasuk kelompok yang sesat? Maka saya  katakan  Tidak! Paling minimal dikatakan kepada mereka adalah, mereka mengikuti pemimpin pertama mereka, yaitu hasan al-Banna rahimahullah (begitu syaikh al-Bani mendoakan beliau), dan mereka mengukuti al-Kitab dan sunnah di atas manhaj salaf ash-Shalih, walaupun pengakuan ini butuh tafshil (perincian) dalam bentuk qauli (perkataan) dan tathbiq (prakteknya) dalam perbuatan.

Akan tetapi kita mencukupkan diri dengan perkataan bahwa mereka telah mengumumkan dirinya memiliki perhatian terhadap al-Kitab dan Sunnah dan manhaj salaf ash-shaleh, namun mereka menyelisihinya pada pada permasalahan yang sedikit ataupun banyak. Diantara mereka pula ada orang-orang yang bersama kita dalam akidah namun tidak bersama kita dalam manhaj. Oleh karena itu saya secara pribadi, saya mengatakan bahwa saya tidak menemukan rukhsah (keringanan) untuk seseorang memasukkan mereka dalamfirqah adh-Dhollah (kelompok yang sesat), akan tetapi mereka menyelisihi kita dan selama itu kita bisa berdialog dan berdebat dengan mereka. Adapun memasukkan mereka dalam kelompok yang sesat maka itu tidak boleh, karena mereka tidak menjadikan manhaj yang mereka umumkan dan mereka bangun menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah dan hal itu berada di atas pemahaman salaf ash-Shalih sebagaimana halnya kelompok-kelompok yang lain yang telah ma’ruf dari dulu.” (dengarkan rekamannya disini: https://www.youtube.com/watch?v=xT84r3abMeE.) rekaman ini pada rekaman beliau silsilah al-Huda Wannur: 849/ silahkan lihat disini:http://www.alalbany.net/2700).

Masih pada alasan pertama beliau

Kemudian beliau menyebutkan sikap para ulama dalam bermajelis dengan ahli bid’ah yang beliau nukil dari kitab Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur, yaitu sikap Ibnu Sirinrahimahullah ketika didatangi oleh ahli bid’ah dan beliau menolak untuk dibacakan al-Qur’an kepadanya, kisah Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah yang datang kepadanya ahli ahwa (pengikut hawa nafsu) yang ingin bertanya kepadanya satu kalimat maka beliau menolaknya dan juga perkataan Fudhail rahimahullah.

Tanggapan

Dalil yang dijadikan oleh al-Akh sofyan tentang kisah-kisah para ulama salaf dalam menolak ahlu bid’ah lagi-lagi salah alamat. Ingat, kami tidak menafikan haramnya duduk-duduk dengan ahlu bid’ah yang sedang tenggelam dan sibuk membicarakan perkara-perkara yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah. Akan tetapi, beliau menukil perkataan para ulama untuk ahlul bid’ah dan mengarahkannya pada orang-orang yang bukan ahlul bid’ah. Sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas akan perkataan para ulama, bahwa ikhwanul muslimin tidak dianggap sebagai kelompok sesat dan ahlu hawa oleh para ulama bahkan dimasukkan dalam barisan ahlusunnah waljama’ah. Tidak sebagaimana tuduhan al-Akh sofyan.

Perlu diketahui juga bahwa pada kegiatan yang dimaksud oleh beliau, sebelum mengadakan kegiatan itu panitia telah mengadakan musyawarah untuk memilih pemateri yang cocok dengan menimbang manhaj dan pemikirannya. Sehingga pemateri yang dipilih adalah pemateri yang insya Allah selamat pemahamannya. Dengan menimbang banyaknya mashlahat, maka pemateri tersebut yang dipilih, walau mungkin akan ada perbedaan dalam ranah furu’iyyah yang tidak sesuai dengan pemahaman ustadz-ustadz di wahdah.

Setelah mengetahui bahwa tuduhan yang dilemparkan kepada wahdah islamiyyah  bahwa mereka gemar duduk dengan ahlul bid’ah adalah dusta, maka perlu untuk kita ketahui juga adalah hukum bolehnya mengambil ilmu pada orang-orang yang bukan ahlusunnah atau ahli bid’ah dan ahlul ahwa, jika memang sesuatu yang disampaikannya adalah kebenaran. Hal ini memang membutuhkan tafshil (perincian), sebab para ulama dahulu juga mengambil ilmu dari ahlul bid’ah dan ahlul ahwa, yaitu menerima riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh mereka (ahli bid’ah). Ingat, meneriwa riwayat adalah ilmu yang agung, dengannya agama kita terjaga sampai hari ini.

Mayoritas ulama membedakan permasalahan seperti ini sesuai bid’ah mereka dan bentuk semangat mereka terhadap bid’ah mereka. Maka mereka membedakan antara bid’ah yang mengkafirkan pelakunya, bid’ah yang memfasikkan pelakunya dan antara orang-orang yang menyeru pada bid’ahnya serta orang-orang yang tidak menyeru pada bid’ahnya.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

قال العلماء من المحدثين والفقهاء وأصحاب الأصول المبتدع الذي يكفر ببدعته لا تقبل روايته بالاتفاق وأما الذي لا يكفر بها فاختلفوا في روايته فمنهم من ردها مطلقا لفسقه ولا ينفعه التأويل ومنهم من قبلها مطلقا اذا لم يكن ممن يستحل الكذب في نصرة مذهبه أو لأهل مذهبه سواء كان داعية إلى بدعته أو غير داعية

“Telah berkata para ulama dari kalangan ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ilmu ushul bahwasanya ahli bid’ah yang mengkafirkan pelakunya tidak diterima riwayatnya secara ittifaq (kesepakatan para ulama). Adapun bid’ah yang tidak mengkafirkan pelakunya maka para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Diantara mereka ada yang menolaknya secara muthlak karena kefasikannya dan ta’wil tidak bermanfaat untuknya. Diantara ulama adapula yang menerimanya secara muthlak jika orang tersebut bukanlah seorang yang menghalalkan dusta untuk menolong mazhabnya atau untuk pengikut mazhabnya. Sama saja apakah dia mengajak pada bid’ahnya atau tidak mengajaknya. (al-Minhaj Syarah Shahih Muslim: 1/60)

Abdurrahman Ibnu Yahya Ibnu Ali Ibnu Muhammad al-Mu’allimi rahimahullah salah seorang ulama hadits, beliau berkata:

لا شبهة أن المبتدع إن خرج ببدعته عن الإسلام لم تقبل روايته لأن من شرط قبول الرواية الإسلام .

“Tidak ada syubhat (keragu-raguan) bahwa ahli bid’ah yang mengelurakan pelakunya dari islam tidak diterima riwayatnya karena syarat diterimanya riwayat adalah beragama islam.” (at-Tankil: 127)

Al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah dalam kitabnya al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah menulis satu bab dalam bukunya “Bab maa jaa fi al-akhdzi ‘an ahli al-bida’ wal ahwa wal ihtijaaj biriwayatihim” (bab bolehnya menerimwa riwayat ahli bid’ah dan ahli ahwa/pengikut hawanafsu dan berhujjah dengan riwayat mereka) pada bab tersebut beliau berkata:

وذهبت طائفة من أهل العلم الى قبول أخبار أهل الأهواء الذين لا يعرفون منهم استحلال الكذب

“Dan beberapa kelompok dari kalangan ahli ilmu menerima berita-berita dari kalangan ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang tidak diketahui dari mereka menghalalkan dusta.” (al-Kifayah Fi Ilmi ar-Riwayah: 120)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

ورد شهادة من عرف بالكذب متفق عليه بين الفقهاء وتنازعوا في شهادة سائر أهل الأهواء هل تقبل مطلقا أو ترد مطلقا أو ترد شهادة الداعية إلى البدع

“Dan perkara menolak persaksian orang-orang yang diketahui gemar berdusta adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama. Namun mereka berselisih tentang hukum menerima persaksian seluruh ahlu ahwa, apakah diterima secara muthlak atau ditolak secara muthlak atau yang di tolak hanyalah yang mengajak pada kebid’ahanya.” (minhaju sunnah: 1/27)

Beliau juga berkata:

والبدع متنوعة فالخوارج مع أنهم مارقون يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية وقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتالهم واتفق الصحابة وعلماء المسلمين على قتالهم وصح فيهم الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم من عشرة أوجه رواها مسلم في صحيحه روى البخاري ثلاثة منها ليسوا ممن يتعمد الكذب بل هم معروفون بالصدق حتى يقال إن حديثهم من أصح الحديث لكنهم جهلوا وضلوا في بدعتهم

“Bid’ah itu mutanawwi’ah (bermacam-macam bentuknya). Maka kaum khawarij yang telah keluar dari wilayah islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, bahkan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk memerangi mereka, begitu juga dengan para sahabat dan ulama kaum muslimin atas halalnya memerangi mereka, adalah dibenarkan mengambil riwayat  hadits dari mereka dilihat dari sepuluh awjuh. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari rahimahumallah dalam shahih mereka , karena mereka adalah kaum yang mengharamkan dusta, bahkan mereka sangat ma’ruf dengan kejujurannya sampai-sampai dikatakan sesungguhnya hadits mereka adalah hadits yang paling shahih namun mereka sesat pada bid’ah mereka.

Diantara keinshafan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau tidak menyebut kalangan asya’irah sebagai ahlul bid’ah. Mereka adalah kelompok yang banyak menyelisihinya dalam tata cara ibadah dan perkara-perkara yang dianggap bid’ah, bahkan pada permasalahan akidah khususnya dalam masalah tauhid asma wa sifat. Beliau bahkan memuji al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah pada perkataannya:

وَلِهَذَا يَكْثُرُ فِي الْأُمَّةِ مِنْ أَئِمَّةِ الْأُمَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ مَنْ يَجْتَمِعُ فِيهِ الْأَمْرَانِ , فَبَعْضُ النَّاسِ يَقْتَصِرُ عَلَى ذِكْرِ مَحَاسِنِهِ وَمَدْحِهِ , غُلُوًّا وَهَوًى , وَبَعْضُهُمْ يَقْتَصِرُ عَلَى ذِكْرِ مَسَاوِيهِ غُلُوًّا وَهَوًى , وَدِينُ اللَّهِ بَيْنَ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ , وَخِيَارُ الْأُمُورِ أَوْسَطُهَا . وَلَا رَيْبَ أَنَّ لِلْأَشْعَرِيِّ فِي الرَّدِّ عَلَى أَهْلِ الْبِدَعِ كَلَامًا حَسَنًا هُوَ مِنْ الْكَلَامِ الْمَقْبُولِ الَّذِي يُحْمَدُ قَائِلُهُ إذَا أَخْلَصَ فِيهِ النِّيَّةَ , وَلَهُ أَيْضًا كَلَامٌ خَالَفَ بِهِ بَعْضَ السُّنَّةِ هُوَ مِنْ الْكَلَامِ الْمَرْدُودِ الَّذِي يُذَمُّ بِهِ قَائِلُهُ إذَا أَصَرَّ عَلَيْهِ بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ , وَإِنْ كَانَ الْكَلَامُ الْحَسَنُ لَمْ يُخْلِصْ فِيهِ النِّيَّةَ , وَالْكَلَامُ السَّيِّئُ كَانَ صَاحِبُهُ مُجْتَهِدًا مُخْطِئًا مَغْفُورًا لَهُ خَطَؤُهُ لَمْ يَكُنْ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَدْحٌ وَلَا ذَمٌّ , بَلْ يُحْمَدُ نَفْسُ الْكَلَامِ الْمَقْبُولِ الْمُوَافِقِ لِلسُّنَّةِ وَيُذَمُّ الْكَلَامُ الْمُخَالِفُ لِلسُّنَّةِ , وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ الْمَرْجُوعَ إلَيْهِمْ فِي الدِّينِ مُخَالِفُونَ لِلْأَشْعَرِيِّ فِي مَسْأَلَةِ الْكَلَامِ , وَإِنْ كَانُوا مَعَ ذَلِكَ مُعَظِّمِينَ لَهُ فِي أُمُورٍ أُخْرَى وَنَاهِينَ عَنْ لَعْنِهِ وَتَكْفِيرِهِ , وَمَادِحِينَ لَهُ بِمَا لَهُ مِنْ الْمَحَاسِنِ

“Oleh karena itu, kebanyakan para imam dari pemimipin-pemimpin ummat ini dan selain mereka terdapat pada diri merea dua sifat (sifat yang baik dan buruk). Diantara manusia ada yang mencukupkan diri hanya dengan menyebut kebaikan-kebaikannya dan memujinya, yang merupakan bentuk ghuluw (perbuatan belebih-lebihan) dan mengikuti hawa nafsunya. Diantara mereka pula ada yang hanya mencukupkan diri dengan menyebut keburukan-keburukannya, yang juga merupakan bentuk ghuluw dan mengikuti hawa nafsunya. Dan agama Allah mengajarkan agar mansuia bersifat pertengahan yaitu tidak sifat ghuluw dan juga tidak bersifat kasar (merendah-rendahkan-pent) terhadap mereka. sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah yang paling pertengahan.

Dan tidak diragukan bahwa pada imam al-Asy’ari terdapat perkataannya yang baik dalam membantah orang-orang yang ahli bid’ah. Dan hal itu merupakan perkataan yang diterima, dimana pelakunya dipuji jika ia mengikhlaskan niatnya. Juga terdapat beberapa perkataannya yang menyelisihi sunnah, yang tertolak dimana pelakunya tercela jika ia tetap berbuat seperti itu setelah melakukan iqamatul hujjah (hujjah yang benar telah disampaikan padanya). Walaupun ada pada perkataannya yang baik yang tidak mengikhlaskan niatnya dan pada perkataannya yang buruk, maka sesungguhnya pemilik perkataan (Imam al-Asy’ari) adalah seorang mujtahid, yang dimaafkan pada kesalahannya, tidak terdapat pada satu dari keduanya pujian atau celaan. Justru perkataannya yang sesuai sunnah adalah perkataan yang diterima dan terpuji dan perkataannya yang menyelishi sunnah adalah perkataan yang dicela. Hanya saja maksudnya adalah para imam yang dijadikan oleh manusia untuk selalu kembali pada mereka pada masalah agama ini, yang menyelisihi imam al-Asy’ari pada permasalahan kalam tetap mengagungkan dia pada permasalahan ilmu agam yang lain walau terdapat perbedaan itu. Dan mereka melarang untuk melaknat dan mengkafirkannya justru tetap memujinya pada kebaikan-kebaikannya. (Iqamatu ad-Dalil ‘Ala Ibthalu at-Tahlil: 4/170 dan al-Fatwa al-Kubra: 6/662)

Tidak ada yang memungkiri bahwa kebanyakan ulama Syafi’iyyah adalah ulama-ulama yang banyak terpengaruh pemahaman asya’irah. Misalnya saja kitab Fath al-Bari yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan begitu pula dengan imam an-Nawawi rahimahullah, dimana mereka banyak menta’wilkan beberapa sifat Allah yang tidak dibenarkan oleh ahlussunnah. Maka mempelajari buku-buku mereka sama halnya dengan duduk dalam majelisnya, mendengarkan ucapannya. Bedanya, perkataan-perkataan mereka itu telah dititahkan dalam kitab-kitab mereka yang kita baca sekarang. Namun, para ulama tetap memasukkan mereka dalam barisan ahlussunnah dan tidak mengatakan mereka sebagai ahlul ahwa dan ahli bid’ah.

Kami teringat dengan perkataan Waki’ Ibnu Jarrah rahimahullah guru dari Imam asy-Syafi’, beliau berkata:

إن أهل العلم يكتبون ما لهم وما عليهم وأهل الأهواء لا يكتبون إلا ما لهم

“Sesungguhnya para ulama mengambil ilmu dari orang-orang yang sejalan dengan mereka dan yang tidak sejalan dengan mereka. Adapun para pengekor hawa nafsu, mereka tidak akan menulis kecuali apa yang ada pada mereka saja.” (Ahadits fi Dzammi Ilmi al-Kalam: 2/188)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan sifat-sifat ahlul ahwa seperti kahwarij dan rafidhah, beliau juga menyebutkan bagaimana seharusnya bersikap inshaf terhadap mereka. Beliau berkata:

ومع هذا فأهل السنة يستعملون معهم العدل والإنصاف ولا يظلمونهم فإن الظلم حرام مطلقا كما تقدم بل أهل السنة لكل طائفة من هؤلاء خير من بعضهم لبعض بل هم للرافضة خير وأعدل من بعض الرافضة لبعض وهذا مما يعترفون هم به ويقولون أنتم تنصفوننا ما لا ينصف بعضنا بعضا وهذا لأن الأصل الذي اشتركوا فيه أصل فاسد مبنى علي جهل وظلم وهم مشتركون في ظلم سائر المسلمين فصاروا بمنزلة قطاع الطريق المشتركين في ظلم الناس ولا ريب أن المسلم العالم العادل أعدل عليهم وعلى بعضهم من بعض والخوارج تكفر أهل الجماعة وكذلك أكثر المعتزلة يكفرون من خالفهم وكذلك أكثر الرافضة ومن لم يكفر فسق وكذلك أكثر أهل الأهواء يبتدعون رأيا ويكفرون من خالفهم فيه وأهل السنة يتبعون الحق من ربهم الذي جاء به الرسول ولا يكفرون من خالفهم فيه بل هم أعلم بالحق وأرحم بالخلق

“Walau demikian, ahlussunnah tetap berbuat adil dan inshaf, bahkan tidak menzhalimi mereka. Karena kezhaliman adalah sesuatu yang haram secara muthlak, sebagaimana sikap ahlussunnah terhadap semua kelompok dari mereka, Dimana ahlussunnah bersikap lebih baik terhadap mereka ketimbang sikap sebagian mereka terhadap sesama mereka. Bahkan sikap ahlussunnah terhadap rafidhah lebih baik dan lebih adil terhadap mereka ketimbang rafidhah bersikap terhadap rafidhah lainnya. Dan inilah yang diakui mereka, mereka berkata, “Kalian menyifati kami dengan sifat yang tidak disifati oleh sebagian kami terhadap kami.” Demikian karena pondasi mereka dibangun pada sesuatu yang rusak, kejahilan dan kezhaliman. Demikian mereka bersikap terhadap seluruh kaum muslimin. Maka mereka seperti perampok dijalanan yang terkumpul pada mereka sikap kezhaliman terhadap manusia. Dan tidak diragukan bahwa seorang muslim yang adil, lebih adil terhadap mereka daripada sebagian mereka terhadap yang lainnya. Dan orang-orang khawarij mengkafirkan ahlususunna waljama’ah, demikian pula kebanyakn mu’tazilah mengkafirkan orang-orang yang menyelsihi mereka. Demikian pula kebanyakan rafidhah, siapa yang tidak mengkafirkan maka dia fasik,demikian pula kebanyakan para pengikut hawa nafsu, mereka membuat pendapat baru (bid’ah) tentang satu pendapat, lalu mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka pada pendapat mereka. Adapun ahlusunnah mengikuti kebenaran dari Rabb mereka, yang Rasul diutus dengan kebenaran itu, dan mereka tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, bahkan mereka mengetahui tentang hak orang lain terhadap mereka dan sangat pemurah terhadap manusia.” (Minhaju as-Sunnah an-Nabawiyyah: 5/103)

Permasalahan ini kami akan bahas lebih jauh pada perkara muawazhanah yang mereka tuduhkan. Insya Allah.

Kemudian beliau berkata:   

  1. Pernah diadakan seminar oleh Wahdah Islamiyah bekerja sama dengan MPM Unhas (underbow-nya WI di Unhas) tentang TERORISME. Hadir sebagai pembicara, diantaranya: Ust. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc, Ust. Kholid Basalamah, Lc dan seorang pembicara dari kalangan tokoh Ikhwanul Muslimin (IM). Selanjutnya kami sebut dengan “Tokoh Ikhwan”

Dialog ini bukanlah untuk mengungkap fikrah terorisme yang ada pada IM, bahkan ada beberapa syubhat yang dilontarkan oleh si Tokoh Ikhwan tersebut, dan seakan diamini oleh Ust. Muh. Ikhwan Abdul Jalil, Lc, diantaranya:

* Si Tokoh Ikhwan mengatakan bahwa muzhoharoh (demonstrasi)[3] bukanlah bid’ah[4], bahkan harus dilakukan demi mendukung ‘suara kebenaran’ di dewan. Pernyataan ini seingat saya tidak ada sedikitpun bantahannya dari Ust. Ikhwan. Malah ia mengomentarinya dengan mengatakan, “Kita sesama Ahlus Sunnah harus saling ifadah dan istifadah”. Pada saat itu jelas sekali yang ia maksudkan dengan sesama Ahlus Sunnah adalah WI dan IM. Di sini saya teringat penukilan salah seorang kader senior WI bahwasannya Ust. Jahada Mangka, Lc juga pernah mengatakan, “Yang paling dekat dengan WI (Wahdah Islamiyah) adalah IM (Ikhwanul Muslimin).”

Tanggapan

Kami akan menanggapi pernyataan beliau ini juga dalam beberapa point:

Pertama:  Sungguh merupakan kebaikan jika mereka berta’awun untuk menyadarkan umat akan bahaya terorisme. Hakikatnya ini menjadi bukti akan tuduhan yang dilemparkan oleh guru-guru beliau saat ini, karena sampai sekarang mereka masih melempar kedustaan bahwa wahdah memiliki hubungan dengan terorisme dan menghalalkan demonstrasi. Bahkan dengan sangat dustanya diantara mereka, ada yang mengatakan bahwa wahdah ditengarai memiliki hubungan dengan ISIS, sebagaimana yang dituduhkan oleh ustadz yang memuraja’ah tulisan beliau ini. Innalillahi wainnaa ilaihi raji’un

Sayang, bukti yang begitu jelas di hadapan matanya akan kebenaran bahwa wahdah tidak berpemikiran seperti tuduhan mereka itu, tidak pernah diperhatikan sudah berada di depan matanya, seolah mereka menutup mata akan hal ini, dan lebih memilih untuk mempercayai berita-berita koran yang dikenal dengan tuhmah kadzibnya lalu menuduh kaum muslimin dengan berita koran yang banyak berdusta. Innalillahi wainnaaillaihi raji’un. Inikah manhaj ahlul hadits versi mereka?

Kemudian, kesalahan yang biasa beliau lakukan adalah serampangan dalam memvonis. Beliau berkata, “Dialog ini bukanlah untuk mengungkap fikrah terorisme yang ada pada IM.” Kami tidak mengetahui, siapa anggota ikhwanul muslimin di Indonesia yang melakukan aksi teror, nampaknya al-Akh sosyan harus memperlihatkan buktinya. Bukan sekedar nukilan yang tidak jelas, melainkan bukti yang nyata yang sudah beliau tabayyun langsung pada jama’ah ikhwanul muslimin di Indonesia.

Kalau saja kami menghendaki menuduh secara serampangan seperti yang beliau lakukan, maka kami akan menuduh merekalah orang-orang yang menghalalkan demonstrasi sebagaimana hal ini pernah dilakukan oleh Laskar Jihad, yang dahulu semua kelompok salafi berinduk darinya. Sepengetahuan kami, orang-orang yang membolehkan demonstrasi dari kalangan ikhwanul muslimin tidak pernah melakukan aksi demonya dengan membawa senjata seperti mereka. Tapi sudahlah, kami tidak akan membalas tuduhan mereka yang serampangan dengan cara yang serampangan pula. Itu tidak bijak namanya. Sebab kelompok mereka itu sudah terpecah belah dan sekarang saling menyerang satu sama lain. Nampaknya racun-racun dari daging para ulama yang mereka makan di majelis-majelis mereka, sementara menggerogoti tubuh-tubuh mereka dan menjadikan mereka berpecah belah.

Kemudian mengenai muzhaharah (demonstrasi), hal ini merupakan perkara kontemporer, dan masalah ini adalah perkara khilafiyyah oleh para ulama, terlebih di negri yang berhukum dengan selain hukum Allah, dimana negri itu memang menjadikan demonstrasi sebagai sesuatu yang dibenarkan bahkan cara yang dianjurkan oleh pemerintah untuk menyalurkan aspirasi rakyatnya kepada pemerintah. Diantara ulama yang masyhur dalam membolehkannya adalah asy-Syaikh Dr Yusuf al-Qardhawi hafizhahullah. Bahkan Abu Syuja’ al-Azhari menulis kitab yang berjudul “al-Muzhaharaat as-Saliimah min aujabil waajibaat asy-Syar’iyyah limadza wa kaifa.” Silahkan lihat buku beliau, bagaimana pendalilannya sehingga membolehkan muzharah (demonstrasi). Buku tersebut bisa anda lihat melalui web resmi maktabah syamilah disini: http://shamela.ws/browse.php/book-37642/page-98

Alhamdulillah sikap wahdah dalam hal ini jelas, tidak membenarkannya. Permasalahannaya adalah al-Akh Sofyan menghukum seseorang diatas zhan (prasangka) padahal Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث

“Jauhilah oleh kalian buruk sangka, karena sesungguhnya dia adalah perkataan yang dusta.”

Sungguh benar perkataan Abu Qilabah al-Jarmi rahimahullah:

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له عذرا فإن لم تجد له عذرا فقل لعل له عذرا لا أعلمه

“Apabila sampai kepadamu berita tentang saudaramu tentang perkara yang engkau membencinya, maka carikanlah udzur untuknya. Jika engkau tidak mendapatkan udzur untuknya maka katakanlah, “Mungkin ada udzur baginya yang tidak aku ketahui.” (Lihat: Raudhatu al-Uqalaa wa Nuzhatu al-Fudhala: 184)

Untuk perkataan al-Ustadz Jahada Mangka hafizhahullah  yang dinukil oleh al-akh Sofyan kami kira sudah jelas dengan fatwa-fatwa para ulama  tadi.

Al-akh Sofyan berkata:

Namun yang ingin saya buktikan di sini bukan masalah syubhat-syubhat yang tidak bisa dijawab. Tetapi perbuatan WI menjadikan orang tersebut sebagai pembicara, artinya: orang itu dijadikan sebagai sumber ilmu dalam seminar tersebut. Apalagi tidak ada sedikitpun bantahan dari pihak WI untuk menyingkap fikrah terorisme yang ada pada IM.

Tanggapan

Bukan tempatnya beradu argument tentang masalah khilafiyyah pada seminar tersebut. Apalagi masalah yang dimaksudkan adalah sesuatu yang memang dilegalkan oleh pemerintah, dan pada saat itu yang hadir adalah masyarakat awwam. Tujuan kegiatan tersebut adalah memahamkan masyarakat akan bahaya terorisme, sehingga jika beradu argumen pada masalah seperti itu hanya akan membuang-buang waktu bahkan bisa saja menimbulkan masalah yang lebih besar yaitu keributan, yang menyebabkan tujuan dari diselenggarakannya acara tersebut tidak akan tercapai. Sebab yang diketahui oleh masyarakat awwam tentang cara menyalurkan aspirasi mereka adalah lewat demonstrasi. Maka untuk menjelaskan ini butuh pendekatan kepada mereka, tidak secara frontal menyebutkannya dalam acara seperti itu.

Adapun mereka-mereka yang sudah mengenal manhaj mulia ini apalagi sudah kulaih di STIBA seperti beliau, para asatidz sudah tsiqah dengan mereka, bahwa permasalahan itu tidak akan berpengaruh pada mereka atau bisa bertanya langsung diluar acara tersebut. Hal ini tidak disadari oleh beliau dan justru menghukumi seseorang di atas zhan (buruk sangka), padahal hal itu adalah sesuatu yang tidak dibolehkan.

Mengenai asatidz wahadah islamiyyah menjadikan seseorang dari kalangan ikhwanul muslimin sebagai pemateri saat itu, maka jawabannya karena mereka telah menyeleksi siapa orang yang baik untuk membawakan materi itu, yang akidah dan pemahamannya juga baik, serta sudah diketahui sikapnya oleh panitia pelaksana melalui musyawarah akan materi yang akan disampaikannya itu, tentu saja dengan selalu mempertimbangkan mashlahat dan mudharatnya.

Alasan beliau berikutnya, beliau berkata:

Pada acara ini juga Ust. Ikhwan memuji Safar al-Hawali sebagai seorang Ulama Ahlus Sunnah dan secara halus menyalahkan pemerintah yang memenjarakannya (Pemerintah Saudi Arabia-ed). Padahal memang ia pantas dipenjara, karena telah melakukan beberapa tindakan yang menimbulkan fitnah antara pemerintah Saudi dengan rakyatnya dalam beberapa tulisan dan ceramahnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh bin Baaz -rahimahullah- dalam suratnya ke Amir Nayif bin Abdil Aziz. Justru Ust. Muh. Ikhwan yang harus disalahkan, karena ia telah membela orang yang salah (yakni, Safar Al-Hawaliy)

Tanggapan:

Jika memang betul tuduhan al-akh Sofyan bahwa ustadz Ikhwan menyalahakan pemerintah Saudi yang memenjarakannya, maka kami katakan betul Ustadz Ikhwan salah. Akan tetapi, kami melihat beliau terlalu mendramatisir suatu masalah dan membangun hukum diatas zhan. Perkataan beliau bahwa ustadz Ikhwan secara halus menyalahkan pemerintah Saudi, hal ini sangat butuh penjelasan, bagaimana bentuk perkataan itu, apakah beliau menyalahkannya atau hanya prasangka al-akh Sofyan saja? Maka hendaknya masalah menyangkut agama seseorang ditanyakan pada sang empunya perkataan, sebagaimana penjelasan pada kaidah hajr sebelumnya.

Mengenai tuduhan al-akh sofyan atas pembelaan asatidz Wahdah kepada tokoh-tokoh yang menyimpang dan menjadikan mereka sebagai ulama idola seperti, Syaikh Salman al-Audah, Syaikh Yusuf al-Qardhawi, Syaikh Aidh al-Qarni dan Sayyid Quthb yang mereka tuduh sebagai ulama yang keluar dari ahlussunnah waljama’ah, bahkan sebagian yang lain dari saudara-saudaranya menuduhnya sebagai khawarij, lagi-lagi ini adalah perkara yang terlalu didramatisir, dan tidaklah beliau menghukumi seperti ini kecuali berdasarkan kejahilan.

Asatidz Wahdah Islamiyyah tidaklah memulikan mereka kecuali sebagaimana para ulama juga memuliakan mereka seperti itu. Mereka adalah tokoh islam yang ma’ruf telah memberi sumbangsih besar terhadap islam dan kaum muslimin. Yang kami pahami dari asatidz Wahdah Islamiyyah adalah mereka tidak membela ketokohan mereka, melainkan membelahukum syar’i yang mereka perjuangkan. Jika benar, maka perkataannya di terima dan jika salah maka perkataannya tertolak.

Hal ini sebagaimana nasehat Syaikh Ibnu Muhammad al-Ustaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Sayyid Quthb rahimahullah, yang suaranya sangat berpengaruh di dunia, namun banyak orang-orang yang sangat membencinya dengan kebencian yang sangat mendalam. Maka beliau menjawab:

“Semoga Allah memberi keberkahan kepadamu. Saya tidak ingin melihat perselisihan dikalangan pemuda-pemuda muslim pada ketokohan seseorang, bukan pada Sayyid Quthb, bukan pula selain dirinya, akan tetapi niza’ (perselisihan) pada hukum syar’i. Misalnya, kita menolak perkataan Sayyid Quthb atau selain dirinya, apakah perkataanya adalah kebenaran atau kebatilan? Maka hendaknya kita mengujinya. Jika perkataannya benar, maka kita terima dan jika perkataannya salah maka perkataanya kita tolak. Adapun jika perselisihan antara kaum muslimin karena seseorang yang mereka kagumi, maka ini adalah ghalath (kekeliruan) dan kesalahan yang sangat besar.

Sayyid Quthb bukanlah seorang yang maksum, para ulama yang keilmuannya berada diatasnya juga bukanlah orang-orang yang maksum, begitupula para ulama yang keilmuannya berada dibawahnya bukanlah orang-orang yang maksum. Maka semua orang ada yang perkataannya diterima dan adapula yang ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka saya melarang setiap pemuda muslim berselisih karena ketokohan seseorang, siapapun dia. Karena jika seandainya perselisihan terjadi dalam ranah seperti ini, maka boleh jadi seseorang akan menjadikan suatu perkara sebagai kebatilan padahal hal itu adalah kebenaran yang telah dikatakan oleh tokoh tersebut, atau mungkin dia menolong perkataan yang batil yang dikatakan oleh tokoh tersebut. Ini merupakan perkara yang sangat berbahaya. Karena apabila seseorang telah ta’ashshub (fanatik) pada seorang tokoh dan lawannya ta’ashshub pada tokoh yang lain, maka dia akan mengatakan sesuatu apa yang tidak dikatakan oleh tokoh tersebut, atau menta’wilkan perkataannya, atau selain itu. Dan boleh jadi, dia mengingkari apa yang dikatakannya, atau mengarahkan perkataannya pada kebatilan.

Maka aku katakan, hendaknya kita tidak berbicara pada ketokohan seseorang, dan juga tidak ta’ashshub pada ketokohan seseorang. Sayyid Quthb sekarang telah berpindah dari dunia yang merupakan tempat untuk beramal ke alam yang setiap orang akan mendapatkan ganjaran dari amalannya. Dan Allah lah yang menghitungnya. Begitupula keadaannya terhadap para ulama yang lain. Adapun kebenaran, maka dari siapa saja kita terima, baik itu datangnya dari Sayyid Quthb atau selain Sayyid Quthb. Dan kebatilan wajib untuk ditolak, baik itu datangnya dari Sayyid Quthb atau dari selainnya. Dan merupakan suatu kewajiban memperingatkan manusia akan kebatilan yang dituliskannya, atau diperdengarkannya. Dari siapapun orangnya. Inilah nasehatku untuk saudara-saudaraku. Tidak boleh peselisihan hanya karena menolak ketokohannya atau menerima ketokohannya.

Adapun Sayyid Quthb dalam ucapannya yang memberi pengaruh bagiku, dia seperti yang lainnya (dari kalangan ulama-pent), padanya ada kebenaran dan kesalahan. Tidak ada satupun yang maksum. Akan tetapi pengaruhnya tidak seperti pengaruh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, perbedaannya seperti  bumi dan langit. Adapun atsar laki-laki yang pertama (Sayyid Quthb) adalah atsrarnya pada sastra dan ilmu tsaqafah yang sifatnya umum. Dan dia tidak memiliki apa yang dimiliki seperti syaikh Albani rahimahullahdalam mentahqiq dan kedalaman ilmunya.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kebenaran diambil dari siapa saja, dan kebatilan ditolak walau siapapun orangnya. Dan tidak boleh bagi kita berselisih dan berpecah belah hanya karena ketokohan seseorang. (Liqaau al-Baab al-Maftuuh: 130/7 Maktabah Syamilah)

Demikian halnya dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, pada beberapa tempat beliau menyebutkan kesalahan-kesalahan Sayyid Quthb, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dhaifah. Namun beliau tidak mengkafirkannya bahkan membantah dengan perkataan yang hikmah. Silahkan lihat pada kitab silsilah al-Ahadits adh-Dhaifah: 5/196.

Bahkan dalam setiap perkataan syaikh Albani rahimahullah, beliau mendoakan Sayyid Quthb. Hal ini juga dilakukan oleh ulama-ulama lainnya. Beliau juga pernah memuji Sayyid Quthb dalam kitabnya “Muktashar al-Uluw”, dengan sebutan ustadz kabir. (lihat Mukhtashar al-Uluw: 58)

Syaikh Albani rahimahullah juga memiliki kaset rekaman yang menjelaskan keinshafan beliau terhadap Sayyid Quthb rahimahullah yang berjudul “al-I’tidal Lisayyid Quthb.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga memuji kitab Sayyid Quthb sebagai kitab yang memberikan manfaat yang sangat banyak walau dari kitab mereka tidak lepas dari kesalahan-kesalahan. Beliau juga memuji bahwa Sayyid Quthb dan orang-orang semisanya telah berijtihad untuk kebaikan dan berdakwah pada kebaikan, dan bersabar atas kseuslitan-kesulitan di jalan itu.  Lihatlah betapa indahnya perkataan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di web resmi beliau: (http://www.binbaz.org.sa/node/10678).

Samahatu asy-Syaikh Ibnu Qu’ud rahimahullah juga pernah menulis surat sebagai bentuk nasehat kepada seorang syaikh yang menecela Sayyid Quthb.

Namun, bukan tempatnya disini menyebutkan perkataan para ulama yang memuliakan dan menghormati Sayyid Quthb rahimahullah sebagai bentuk keinshafan mereka terhadapnya.

Maka membela kehormatan seorang muslim apalagi seorang alim (dalam bentuk umum) yang perkataannya sangat berpengaruh pada umat bukanlah hal yang tercela. Hal ini menunjukkan pula bahwa menghormati dan membela kehormatannya tidak berarti mengikutinya dalam kebatilan-kebatilan yang dilakukannya. Sebab para ulama yang kami sebutkan di atas yang membela Sayyid Quthb dengan berbuat inshaf padanya, mereka juga adalah ulama yang mentahdzir kesalahannya.

Mengenai perkataan Ustadz Jahada Mangka hafizhahullah yang berkata, “Tidak benar klaim adanya penyimpangan Sayyid Quthub dan kitabnya Azh-Zhilal, melainkan hanya salah memahami bahasa Sayyid Quthub yang tinggi.” Kami belum melakukan tabayyun pada beliau. Tapi jika memang beliau berkata seperti itu, maka kami yakin beliau mengikuti perkataan  Asy-Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Alu Syaikh hafizhaullah.

Ketika syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Alu Syaikh ditanya tentang perbedaan ahadiyyatul wujud dan wihdatul wujud dalam kitab zhilal maka beliau berkata: “Kitab ini memiliki uslub (gaya bahasa) yang tinggi. Kitab yang ditulis oleh Sayyid ini terkadang pada beberapa ibaratnya di kira sebagai kesyirikan oleh sebagian manusia, atau dianggap telah mencela para Nabi atau, atau, atau.. padahal jika dia melihat ulang pada tulisan itu, sungguh dia akan mendapatkan bahwa ini merupakan uslub sastra yang sangat tinggi, tidak akan ada yang paham membaca kitabnya kecuali orang-orang yang telah terbiasa membaca kitabnya.” (lihat di: http://ar.islamway.net/fatwa/8871).

Kami juga melihat editor tulisan al-akh Sofyan suka mendramatisir masalah dan salah memahami perkataan asatidz Wahdah Islamiyyah. Ketika Ustadz Bahrun Nida hafizhahullahmengutip perkataan Muhammad Quthb, “Andaikata manusia mendekatkan diri kepada Allah dengan mencela Sayyid Quthub, maka aku mendekatkan diri kepada-Nya dengan membelanya.” Dari penjelasan di atas, apa yang salah dengan hal ini? Beliau tidak bermaksud membela kesalahan-kesalahannya, melainkan membela kehormatan seorang muslim dan menghormatinya sebagai seorang yang telah memberi sumbangsih besar pada islam dan kaum muslimin. Namun apa yang dipahami editor?

Editor berkata:

Seakan Sayyid adalah seorang nabi yang tak pernah salah, sehingga harus dibela dalam segala kondisi. Padahal setiap orang –selain nabi- boleh jadi terjatuh dalam kesalahan. Karenanya, Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy, Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh An-Najmiy, Syaikh Robi’, dan ulama lainnya telah memberikan pengingkaran terhadap kesalahan dan penyimpangan Sayyid Quthub dalam kitab-kitab dan ceramah mereka. [ed]

Kami katakan, editor tulisan al-akh Sofyan seakan menganggap Sayyid Quthb sebagai Iblis yang padanya semua keburukan dan tidak ada kebaikan pada dirinya sedikitpun, sehingga pantas untuk selalu dicela dan tidak pantas untuk dibela. Padahal Syaikh al-Bani, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Ibnu Qu’ud, Syaikh Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Hamud Ibnu Uqala asy-Syua’aibi dan Syaikh al-Fauzan menghormati keilmuannya dan membela kebenaran yang ada pada dirinya, bahkan menyuruh untuk mengambil kebenaran yang ada pada dirinya. Lalu, karena mengikuti keinshafan para ulama seperti ini dalam membela para dua’at dan ulama, asatidz Wahdah dikatakan berpemaahaman muwazanah dan sesat. (Insya Allah, masalah muwazanah kami akan bahas pada tulisan kedua. Jujur selama sepuluh tahun belajar di wahdah, kami tidak pernah mendengar istilah muwazanah kecuali setelah mendengarkannya dari mereka tatkala kami mendapat syubhat dari saudara-saudara yang mengaku salafi yang memfitnah ustadz-ustadz di ormas Wahdah).

Kemudian kami katakan bahwa syaikh Safar al-Hawali, Syaikh Salman al-Audah, Syaikh Aidh al-Qarni, Syaikh adalah ulama ahlussunah waljama’ah, bahkan hal ini diakui oleh ulama kibar. Sungguh, orang-orang yang mengeluarkan mereka dari barisan ahlussunnah dan mengatakannya seorang khawarij, maka merekalah yang memiliki sifat seperti kaum khawarij.

Ketika syaikh al-Utsaimin rahimahullah ditanya tentang fitnah yang sedang menimpa umat ini, tentang kebiasaan para penuntut ilmu memfitnah para masyaikh dan duat, salah satunya adalah syaikh Safar al-Hawali hafizhahullah yang dituduh sebagai seorang khawarij, maka syaikh al-Ustaimin rahimahullah berkata:

“Inilah syiar yang paling menonjol dari kalangan khawarij, dimana mereka mengkafirkan seseorang pada dosa besar. Saya justru mengatakan bahwa betul bahwa Safar al-Hawali adalah kharijiyyah ‘ala ahlil bathil (tidak termasuk orang-orang yang batil). Inilah keyakinan saya, dan saya tidak mengatahui padanya kecuali kebaikan.” (Lihat disini:https://www.youtube.com/watch?v=LkAEZhyuMMY).

Dalam fatwa tersebut syaikh al-Ustaimin rahimahullah tertawa bersama syaikh Safar al-Hawali dan peserta lainnya, setelah bertanya pada beliau tentang akidah-akidah khawarij. Kemudian beliau menasehati kaum muslimin tentang sikap yang seharusnya diperlihatkan seorang muslim pada para umara (pemimpin) yang karena perkara itulah syaikh Safar al-Hawali difitnah sebagai seorang khawarij. Nampaknya syaikh al-Utsiamin rahimahullah juga mengkhsuskan nasehat tersebut untuk syaik Safar al-Hawali.

Demikian pula ketika ditanyakan kepada asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi tentang akidah Syaikh Safar dan Salman al-Audah, maka beliau mengatakan, “Aku mengetahui akidah mereka dan mereka adalah ulama ahlussunnah waljama’ah.” (silahkan dengar di sini:https://www.youtube.com/watch?v=HNmuW3qiblo).

Syaikh al-Fauzan hafizhahullah ketika ditanya tentang hukum menghadiri majelis syaikh al-Arifi, Syaikh Aidh al-Qarni dan Syaikh Sa’id Ibnu Musfir hafizhahumullah, beliau berkata: “Hadirilah majelis mereka, ambillah faidah pada mereka dan tinggalkanlah kesalahannya. Tidak perlu engkau menoleh pada perkara mereka (tahdzir dari mendengar kaset dan menghadiri mejelis mereka). Mereka adalah dai penebar fitnah dan pengadu domba:  (https://www.youtube.com/watch?v=390cbQNKcEo

Markaz al-Fatwa yang berada dibawah isyraf Dr. Abdullah al-Faqih pernah di tanya tentang kebolehan mendengarkan kaset-kaset ceramah Syaikh Ibrahim Syaqrah, Syaikh Aidh al-Qarni, Syaikh Adnan Ur ‘ur, Syaikh Salman Fahd al-Audah dan Syaikh Ibrahim ad-Duwaisy pada fatwa nomor 12212.

Penanya: Bolehkah mendengarkan kaset-kaset ceramah atau membaca buku-buku Ibrahim Syaqrah, Safar al-Hawali, Ibrahim ad-Duwaisy, Aidh al-Qarni, Adnan Ur’ur dan Salman al-Audah, karena ada orang-orang yang berada di negri al-Jazair yang mengatakan agar jangan dengarkan mereka. Mohon penjelasannya, terimakasih.

Markaz Fatwa: Alhamdulillah wash-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi washahbih. Sesungguhnya nama-nama yang disebutkan dalam pertanyaan tersebut adalah para dai dan masyaikh yang dikenal, yang telah disaksikan pada mereka akan kebaikan mereka. Maka kami nasehatkan untuk mendengarkan kitab-kitab mereka dan menghadiri durus dan ceramah-ceramah mereka. Dan pembolehan ini tidak mengartikan mereka adalah sebagai orang-orang yang maksum (terbebas dari kesalahan) akan tetapi mereka hanyalah manusia biasa yang terkadang benar dan terkadang salah, terkadangan mengetahui sesuatu dan terkadang jahil terhdap sesuatu. Maka jika ada perkara yang benar dari mereka maka kita terima, dan jika ada kesalahan maka hal itu tertolak dan pemilik perkataannya berhak mendapatkan udzur dari hal itu. Dan hendaknya engkau memberikan nasehat kepada mereka yang tidak memilikihammun (keinginan mendengarkan mereka) kecuali hanya memberi laknat dan tuduhan kepada para ulama dan duat dan kepada fullan dan allan. (Fatwa asy-Syabakah al-Islamiyyah: 12212(

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah dalam nasehatnya tentang perkara terjadi antara para dai dan ulama, beiau berkata: “Para dai bukanlah orang-orang yang terjamin dapat terbebas dari kesalahan. Hal itu sama saja, apakah mereka para guru atau para khatib, baik berlangsung pada saat ceramah atau seminar. Oleh karena itu, apa yang terjadi pada hari ini akan musibah yang menimpa para dai seperti Syaikh Muhammad Aman al-Jamiy, Syaikh Salman al-Audah, Syaikh Safar al-Hawali, Syaikh Falih Ibnu Nafi’ al-Harbi, Syaikh Rabi’ Ibnu Hadi dan selain mereka yang merupakan kalangan dai yang ma’ruf dengan akidah yang baik, sirah yang baik mereka dan ma’ruf dengan akidah ahlussunnah waljama’ah, maka tidak boleh menyakiti salah seorang dari mereka dalam bentuk apapun. Jika ada seorang penuntut ilmu yang mengira salah seorang dari mereka telah berbuat salah atau telah nampak dari mereka kesalahannya maka tidak boleh baginya mempekenalkan hal itu atau berburuk sangka padanya. Bahkan hendaknya dia mendoakannya agar mendapatkan taufik dan hidayah.” (Lihat disini: https://www.youtube.com/watch?v=VJU8h1KzCP4).

Tuduhan beliau bahwa Yusuf al-Qardhawi, Salman al-Audah, Safar al-Hawali dan Aidh al-Qarni sebagai ulama idola asatidz Wahdah Islamiyyah adalah dusta. Jika mereka sebagai ulama idola, niscaya halaqah-halaqah tarbawiyah binaan seluruh kader-kader Wahdah Islamiyyah akan penuh dengan pujian terhadap nama-nama mereka dan kembali pada perkataan-perkataan mereka dalam masalah fikih ataupun akidah. Karena siapa saja yang mengidolakan seseorang, maka dia akan selalu menyebut namanya dan menjadikannya sebagai panutan utamanya. Namun cobalah tanyakan pada seluruh kader Wahdah Islamiyyah se Indonesia, apakah mereka pernah mendenagar nama-nama mereka disebut-sebut dalam halaqah tarbiyah? Kalau pernah, apakah perkataannya dijadikan sebagai rujukan dalam masalah fikih dan akidah? kami yakin anda tidak akan mendapatkannnya. Namun jika memang ada diantara mereka yang menerima perkataan mereka yang benar, apa salahnya?

Mauqif (sikap) asatidz Wahdah Islamiyyah terhadap syaikh Yusuf Qardhawi hafizhahullah juga sebagaimana mauqif ulama lain terhadapnya. Tidak lain karena beliau adalah seorang alim yang memperjuangkan islam. Dalam fatwa-fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah,beliau selalu menyebut syaikh al-Qardhawi sebagai fadhilatu asy-Syaikh (Syaikh yang mulia), syaikh Albani rahimahullah juga mentakhrij hadits-hadits yang terdapat dalam kitab yang ditulis oleh Syaikh al-Qardhawi yang berjudul “Ghayatul Maram Fi Takhriiji Ahadiitis al-Halal wa al-Haram”. Ini merupakan bentuk inayah pada kitab seseorang. Tidak ada satu ulama pun yang mentakhrij hadits pada kitab-kitab seorang alim, kecuali hal itu sebagai inayah padanya.

Kemudian, masalah keikutsertaan para dosen-dosen STIBA untuk melanjutkan S2 di UMI hanya karena tuntutan dari pemerintah bahwa setiap dosen yang mengajar pada satu Kampus harus bergelar Master. Maka jika hanya karena ini menagatakan para asatidz Wahdah Islamiyyah Sesat, maka kami katakan, apa beda antum dengan para khawarij?

Permasalahan inipun karena terpaksa, disebabkan belum adanya Sekolah Islami di indonesia bermanhaj salaf yang yang membuka program Pasca Sarjana. Jangankan program Pasca Sarjana, untuk program S1 pun masih banyak yang belum diakui pemerintah. Mungkin termasuk ma’had-ma’had mereka, tapi semoga saja tidak. Maka langkah yang diambil oleh mereka adalah irtikabu akhaffi adhdhararain.

Permasalahan terkahir yaitu diantara kader Wahdah ada yang menjual majalah Sabili dan Hidayatullah yang bergambar, maka kami katakan hal itu kepada diri mereka, itupun karena mereka ingin mencari berita-berita islam terkini. Masalah gambar mungkin saja bagi mereka masuk dalam permasalahan hukum berfoto yang juga di ikhtilafkan ulama.

Kami tidak sedang membela kesalahan mereka, tapi jika hanya karena ini beliau mengeluarkan saudaranya dari ahlussunnah, maka manhaj ini hampir sama kejamnya denga khawarij. Wallahu a’lam.

Palembang, 13 Safar 1437 H

 

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawiy
Sumber Artikel http://www.almunawy.com/2015/12/tanggapan-ilmiyah-atas-tulisan-sofyan.html

Pencarian kata kunci di search engine :
  • khalid basalamah wahdah islamiyah
  • wahdah islamiyah sesat
  • wahdah islamiyah khalid basalamah
  • kesesatan wahdah islamiyah
  • bukti kesesatan wahdah islamiyah

So, what do you think ?