Ianpanrita = Irhamullah

Irhamullah

Di Atas Bumi Di Bawah Langit
Irhamullah

Tafsir Surah Al-Insaan ayat 5-9

September 20, 2012, by ianpanrita, category blogs, Islam

(Bismillahirrahmanirrahim)  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

( Assalamu ‘alaikum Wr. Wb ) السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

(5) إِنَّ الأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

5. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur[1536],

الأَبْرَارَ: bentuk majemuk dari ‘baarrun’ yang artinya orang yang berbuat kebajikan.

(6) عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

6. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.

Ini adalah salah satu bentuk penafsiran ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran. Ayat ini menjelaskan makna dari كَافُورًا pada ayat sebelumnya.

(7) يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

7. mereka menunaikan Nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.

Mulai dari ayat ini dan beberapa ayat kemudian, Allah menjelaskan atau menyebutkan sifat-sifat ‘orang-orang yang berbuat kebajikan’ (الأَبْرَارَ), yang dimaksud pada ayat kelima.

Mereka adalah, yang disebutkan dalam ayat ini, orang-orang yang menunaikan nadzar, janji dan takut akan hari kiamat, yang disifati pada ayat di atas dengan hari yang azabnya (شَرُّهُ) merata (مُسْتَطِيرًا).

Sebenarnya nadzar bukanlah sesuatu hal yang dianjurkan. Bahkan terdapat hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita bernadzar. Akan tetapi siapa yang sudah melakukannya, maka dia harus menunaikan apa yang dia ia nadzarkan. Dan jika seseorang melakukannya, hendaknya ia memperhatikan agar apa yang ia nadzarkan tidak terlalu memberatkan atau jangan pula terlalu remeh sehingga seakan-akan ia sebenarnya tidak melakukan nadzar.

Sifat pertama yang disebutkan di ayat ini mengenai ‘orang-orang yang berbuat kebajikan’ adalah orang yang menunaikan nadzar. Ia tidak mudah mengucapkan suatu nadzar lalu begitu saja kemudian tidak melaksanakan dan memilih membayar kaffaarah, atau dengan kata lain tidak meremehkan bahkan bermain-main. Tapi ia sungguh-sungguh berusaha menunaikannya.

Diperhatikan juga bentuk kata kerja yang digunakan, baik pada ayat ini mau pun pada ayat-ayat seterusnya, tbqèùqã menggunakan bentuk wazan fi’il mudhari’ yang artinya adalah pekerjaan itu dilakukan ‘saat ini’ dan ‘yang akan datang’. Artinya, ‘orang-orang yang berbuat kebajikan’ bukan hanya pernah menunaikan nadzar, tapi dia konsisten dalam berusaha menunaikannya bahkan hingga saat mendatang.

Sifat kedua adalah, ketakutannya terhadap hari kiamat yang juga memakai wazan fi’il mudhari’ yang menunjukkan kontinuitas rasa takutnya.

Dalam ayat ini Allah menyifati hari kiamat dengan hari yang azabnya merata. Inilah hari di mana antara seseorang dan anggota keluarganya tidak saling memikirkan karena sibuk menyelamatkan diri sendiri.

(8)وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

8. dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Sifat ketiga disebutkan dalam ayat ini, yaitu mereka memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan. Tidak sekedar memberikan makanan asal makanan, tetapi makanan yang sebenarnya ia sukai (حُبِّهِ). Dan tidak sekedar pernah, tapi terus menerus di mana hal ini ditunjukkan dengan digunakannya wazan fi’il mudhari’ pada يُطْعِمُونَ.

Ditekankan hal ini karena ada godaan besar yang membuat orang merasa berat untuk terus menerus melakukannya. Orang biasanya akan merasa bosan dan mungkin kesusahan jika amal ini ia lakukan berlanjut.

Terkadang orang memberikan alasan yang seakan-akan menunjukkan perhatiannya terhadap orang yang diberi. Yaitu, bahwa, jika mereka terus menerus memberikan makanan, maka orang yang diberi menjadi tidak produktif.

Bukan berarti kita membiarkan yang diberi dalam keadaan tidak produktif dan hanya diberi. Tapi tidak juga hal ini menjadi alasan kita untuk berhenti menyantuni mereka.

Kita bisa lihat pada ayat ini bahwa dalam Islam, seharusnya orang-orang miskin, anak-anak yatim dan para tawanan seharusnya disantuni. Tidak hanya orang-orang miskin dan anak-anak yatim dari kalangan kaum muslimin, bahkan para tawanan pun diperhatikan kebutuhannya.

(9)إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلا شُكُورًا

9. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Jika pada ayat sebelumnya disebutkan kontinuitas seseorang memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, maka pada ayat ini disebutkan niat yang seharusnya menjadi sebab mengapa seseorang melakukannya sehingga ia bisa masuk dalam golongan ‘orang-orang yang berbuat kebajikan’.

Yaitu, niat untuk mendapatkan keridhaan Allah tanpa mengharapkan balasan mau pun segala bentuk terima kasih. Walau pun kemudian ternyata ada yang ia beri kemudian memberikan balasan atau bentuk terima kasih, maka itu tidak mengapa jika bukan itu yang menjadi niat asal seseorang memberi makanan.

catatan Kajian Ahad Pagi, Tafsir Surah Al-Insaan ayat 5-9 yang diisi Ust. Ridwan Hamidi di Masjid Kampus UGM, 16 September 2012

Oleh Pondok Mahasiswa Al-Madinah Yogyakarta

.

Pencarian kata kunci di search engine :
  • surat al insan ayat 5-6
  • keterangan surat al insan ayat 6
  • tafsir surah al onsan ayat 8
  • surat al insaan ayat 5
  • al insan ayat 9

So, what do you think ?